TUGAS MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR 2
Saya dan teman teman saya berangkat ke perpus nasional pada hari minggu, tapi karena hari minggu perpus nasional tutup jadi saya dan teman-teman saya mengganti hari menjadi hari Sabtu. Kita semua sudah janjian di mcd harapan indah jam 9 pagi. Keesokan harinya kita semua agak ngaret dateng, jadinya kita berangkat jam 10 pagi sedangkan perpus hanya buka sampai jam 1 siang saja. Kita belum bikin kartu anggota dll. Setelah kami sudah berkumpul semua, lalu kami berangkat dan di jalan itu macet sekali. Akhirnya kami semua sampai pada pukul 11 siang tepat.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) atau Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) adalah Perpustakaan Nasional yang berada di Jakarta, Indonesia. Perpustakaan ini memiliki tugas menyimpan data-data dan informasi negara. Perpusnas juga merupakan salah satu Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia didirikan pada tahun 1989 berdasarkan Keputusan Presiden nomor 11 tahun 1989. Pada pasal 19 dinyatakan bahwa Pusat Pembinaan Perpustakaan, Perpustakaan Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Perpustakaan Wilayah di Propinsi merupakan satuan organisasi yang melaksanakan fungsi dan tugas perpustakaan nasional. Bila membaca pasal 19 maka dapat ditafsirkan bahwa Perpustakaan Nasional RI merupakan gabungan ketiga lembaga tersebut.
Sejarah Perpusnas bermula dengan didirikannya Bataviaasch Genootschap pada 24 April 1778. Lembaga ini adalah pelopor Perpusnas dan baru dibubarkan pada tahun 1950. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI baru didirikan pada tanggal 17 Mei 1980, melalui Keputusan Menteri P dan K No. 0164/0/1980, dengan status sebagai salah satu UPT dari Ditjen Kebudayaan, Depdikbud. Pendirian Perpusnas merupakan gabungan dari empat perpustakaan yang telah ada sebelumnya. Yaitu Perpustakaan Museum Nasional (semula Bataviaasch Genootschap van Kunsten Wetenschapen), Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial, (semula perpustakaan Sticusa), Kantor Bibliografi Nasional; dan Perpustakaan Wilayah (Negara) Jakarta.
Walau secara resmi Perpustakaan Nasional berdiri di pertengahan 1980, namun integrasi keseluruhan secara fisik baru dapat dilakukan pada Januari 1981. Sampai tahun 1987 Perpusnas masih berlokasi di tiga tempat terpisah, yaitu di Jl. Merdeka Barat 12 (Museum Nasional), Jl. Merdeka Selatan 11 (Perpustakaan SPS) dan Jl. Imam Bonjol 1 (Museum Naskah Proklamasi). Sebagai kepala Perpustakaan Nasional adalah ibu Mastini Hardjoprakoso, MLS, mantan kepala Perpustakaan Museum Nasional.
Atas prakarsa Almarhumah Ibu Tien Suharto, melalui Yayasan Harapan Kita yang dipimpinnya, Perpustakaan Nasional memperoleh sumbangan tanah seluas 16,000 m² lebih berikut gedung baru berlantai sembilan dan sebuah bangunan yang direnovasi. Lahan yang terletak di Jl. Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat, merupakan lokasi Koning Willem III School (Kawedri), yakni sekolah HBS pertama di Indonesia ketika zaman kolonial. Bangunan sekolah inilah yang kemudian setelah direnovasi menjadi gedung utama yang digunakan untuk kantor pimpinan dan sekretariat. Gedung di sebelahnya yang berlantai sembilan berfungsi sebagai perpustakaan yang sebenarnya, di mana koleksi bahan pustaka tersimpan dan dilayankan untuk umum.
Dengan selesainya pengerjaan sebagian gedung baru maupun yang direnovasi di Jl. Salemba Raya 28A pada awal 1987, pimpinan dan staf dari tiga bidang (kecuali Bidang Koleksi) pindah ke lokasi tersebut. Gedung baru itu beserta segala perlengkapannya menyatukan semua kegiatan di bawah satu atap yang sebelumnya terpencar di beberapa tempat di Jakarta. Pada usia Perpusnas yang ke-9, secara resmi kompleks itu dibuka yang ditandai dengan penandatanganan sebuah prasasti marmer oleh Presiden dan Ibu Tien Suharto pada tanggal 11 Maret 1989.
Pada tahun 1989, status Perpusnas berubah, menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), melalui Keputusan Presiden RI No. 11 Tahun 1989. Dengan Kepres ini, Perpusnas menjadi lembaga yang berdiri sendiri dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Implikasi dari perubahan status ini, antara lain adalah Perpustakaan Wilayah yang semula di bawah Pusat Pembinaan Perpustakaan, berubah menjadi bagian dari Perpusnas. Sejak saat itu, pembinaan dan pengembangan kegiatan perpustakaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia merupakan bagian dari tugas dan kewenangannya di bidang perpustakaan. Menurut catatan ketika penggabungan, jumlah koleksi berkisar di angka 600 ribu eksemplar, ditangani oleh sekitar 500 orang karyawan yang berlokasi di dua tempat terpisah, Jl. Salemba Raya 28A dan Jl. Merdeka Selatan 11. Saat ini (Desember 1999) jumlah koleksi diperkirakan 1,100,00 eks, dan jumlah karyawan 700 orang.
Dengan semakin bertambahnya beban tugas dan sejalan dengan kiat Perpusnas dalam menerapkan layanan prima kepada masyarakat, maka diterbitkanlah Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1997 tertanggal 29 Desember 1997. Keppres ini menyempurnakan susunan organisasi, tugas dan fungsi Perpustakaan Nasional guna mengantisipasi era globalisasi informasi yang sudah kian mendekat. Di antara penyempurnaan tersebut adalah menciptakan jabatan deputi setingkat eselon IB dan menaikkan status Perpustakaan Nasional Provinsi (d.h. Perpustakaan Daerah) menjadi eselon II. Melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, Hernandono, MA, MLS, menjadi kepala Perpusnas sejak Oktober 1998.
Setelah kami sampai Perpus Nasional saya dan teman teman saya langsung membuat kartu keanggotaan perpus Nasional. Membuat kartunya pun juga harus mengantri lumayan panjang karna banyak yang agak kurang mengerti cara membuat kartunya jadi untuk giliran kita jadi masih lama untuk membuatnya.
Setelah menunggu lama akhirnya kita mengisi data untuk membuat kartunya, jika sudah kita semua mendapatkan nomer atau pin untuk kasih ke ibu ibu yang membuat kartu keanggotaan, dia yang mengecek data kita terlebih dahulu. Jika sudah lengkap nanti kita foto untuk membuat kartu keanggotaannya.
Jika sudah membuat kartu anggota saya langsung menitipkan tas ke loker yang sudah di sediakan. Untuk menaruh barang di loker kita harus menyerahkan KTP terlebih dahulu dan kita di berikan kunci dan nomer untuk mengambil KTP nanti jika sudah berkunjung.
Selanjutnya kami semua ke lantai 2 untuk mencari buku apa yang kita cari, nanti di lantai 2 ada beberapa komputer untuk kita mecari buku. Jika di komputer sudah ketemu kita catat di kertas yang sudah disediakan di kertas itu kita tulis Nama Panggilan, Judul Buku, Pengarang, Penerbit, dan lantai berapa kita akan membaca. Jika sudah semua kita urus di lantai 2. Saya kedapetan membaca di lantai 3B. Disana kita harus menyerahkan kerta yang sudah kita tulis di lantai 2 ke box yang ada di lantai 3B untuk di carikan bukunya oleh sang petugas buku tersebut. Jika buku saya sudah di temukan nanti akan di panggil oleh petugasnya untuk mengambil buku tersebut dan membacanya
Setelah itu saya langsung mengambil buku yang akan di baca nanti,kemudian setelah membaca buku yg sudah di baca tadi saya serap ke dalam otak dan saya cerna dengan matang.
Selesai saya membaca saya langsung ke petugasnya lagi untuk mengembalikan bukunya. Setelah sudah saya langsung turun ke lantai 1 untuk mengambil tas saya di loker dan mengembalikan nomer&kunci agar saya mendapatkan ktp saya lagi yang saya serahkan untuk jaminan.
Akhirnya kami semua menuju mobil dan mencari makan terlebih dahulu setelah itu menuju kampus untuk mrngikuti pelajaran yang akan datang.

Tambahan Foto suasana Perpustakaan Nasional









